Tampilkan postingan dengan label Cerita Lesbian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita Lesbian. Tampilkan semua postingan

Selasa, 27 Oktober 2015

Berita Sex Guruku Lesbian Kelas Kakap

Cerita Porn, Cerita Porno, Cerita Dewasa, Cersex Cerita Sex, Cerita Dewasa, Cerita Ngentot, Cerita Mesum, Cerita Sex, Cerita Lesbian, Cerita birahi, Cerita Hot, Cerita Panas, Cerita Bokep, Cerita Ganas, Cerita Seksualitas, Cerita Bispacx Terbaru.

Berita Sex Guruku Lesbian Kelas Kakap

Baca Cerita seru lainya Kakakku Ternyata Lesbian
Kata temen temenku cew maupun cow rupaku sungguh cantik menawan,memiliki rupa yang cantik tidak selamanya menguntungkan. Memang banyak lelaki yang tertarik, atau mungkin hanya sekedar melirik. Ada kalanya wajah menentukan dalam mendapatkan posisi di suatu pekerjaan. Atau bahkan wajah dapat dikomersiilkan pula. Tapi aku tidak pernah mengharapkan wajah yang cantik seperti yang kumiliki saat ini. Aku juga tidak pernah menghendaki tinggi badan Seratus enam puluh lima centimeter dengan berat lima puluh lima kilogram. Tidak juga kulit putih merona dengan dada ukuran Tiga puluh enam B. Tidak! Sungguh, semua itu justru membawa bencana bagiku. Bagaimana tidak bencana. Karena postur tubuh dan wajah yang bisa dinilai delapan, aku beberapa kali mengalami percobaan pemerkosaan. Paling awal ketika aku masih duduk di bangku SMP kelas tiga. Aku hampir saja diperkosa oleh salah seorang murid laki-laki di toilet. Murid laki-laki yang ternyata seorang alkoholik itu kemudian dikeluarkan secara tidak hormat dari sekolah. Tapi akupun akhirnya pindah sekolah karena masih trauma. Di sekolah yang baru pun aku tak bisa tenang karena salah seorang satpamnya sering menjahilin aku. Kadang menggoda-goda, bahkan pernah sampai menyingkap rokku ke atas dari belakang. Sampai pada puncaknya, aku digiring ke gudang sekolah dengan alasan dipanggil oleh salah seorang guru. Untung saja waktu itu seorang temanku tahu gelagat tak beres yang tampak dari si Satpam brengsek itu. Ia dan beberapa teman lain segera memanggil guru-guru ketika aku sudah mulai terpojok. Aku selamat dan satpam itu dan dari kejadian itu saya lapor kepada pihak yang berwajib dan satpam itu akhirnya meringkuk sebulan di sel pengap. Dua kali menjadi korban percobaan pemerkosaan, orang tuaku segera mengadakan upacara ruwatan. 
Walaupun papa mamaku bukan orang Jawa Tulen (Tionghoa), tapi mereka percaya bahwa upacara ruwatan bisa menolak bahaya. Selama dua tahun aku baik-baik saja. Tak ada lagi kejadian percobaan pemerkosaan atas diriku. Hanya kalau colak-colek sih memang masih sering terjadi, tapi selama masih sopan tak apalah. Tapi ketika aku duduk di bangku kelas tiga SMU. Kejadian itu terulang lagi. Teman sekelasku mengajakku berdugem ria ke diskotik. Aku pikir tak apalah sekali-kali, biar nggak kuper. Ini kan Jakarta, pikirku saat itu. Aku memang tak ikut minum-minum yang berbau alkohol, tapi aku tak tahu kalau jus jeruk yang aku pesan telah dimasuki obat tidur oleh temanku itu. Waktu dia menyeretku ke mobilnya aku masih sedikit ingat. Waktu dia memaksa menciumku aku juga masih ingat. Lalu dengan segala kekuatan yang tersisa aku berusaha berontak dan menjerit-jerit minta tolong. Aku kembali beruntung karena suara teriakanku terdengar oleh security diskotik yang kemudian datang menolongku. Sejak itu aku merasa tak betah tinggal di Jakarta. Akhirnya aku segera dipindahkan ke Yogyakarta, tinggal bersama keluarga tanteku sambil terus melanjutkan sekolah. Awalnya ketenangan mulai mendatangiku. Hidupku berjalan secara wajar lurus teratur. Tanpa ada gangguan yang berarti, apalagi gangguan kejiwaan tentang trauma perkosaan. Aku sibuk sekolah dan juga ikutan les privat bahasa Inggris. Tapi memasuki bulan kelima peristiwa itu benar-benar terjadi. Aku benar-benar diperkosa, dan yang lebih kelewat batas. Bukannya lelaki yang memperkosaku, tapi wanita. Yah, aku diperkosa lesbian!! 
Dan lebih menyakitkan, yang melakukannya adalah guru privatku sendiri. Namanya Evelyne . Umurnya Dua puluh lima tahun, tujuh tahun diatasku. Ia orang Wales yang sudah tujuh tahun menetap di Indonesia. Jadi Evelyne, begitu aku memanggilnya, cukup fasih berbahasa Indonesia. Evelyne tinggal tak sampai satu kilometer dari tempatku tinggal. Aku cukup berjalan kaki jika ingin ke rumah kontrakannya. Kejadian itu bermula pada saat aku datang untuk les privat ke tempat Evelyne. Kadangkala aku memang datang ke tempat Evelyne kalau aku bosan belajar di rumahku sendiri, itupun kami lakukan dengan janjian dulu. Sebelum kejadian itu aku tidak pernah berpikiran macam-macam ataupun curiga kepada Evelyne. Sama sekali tidak! Memang pernah aku menangkap basah Evelyne yang memandangi dadaku lekat-lekat, pernah juga dia menepuk pantatku. Tapi aku kira itu hanya sekedar iseng saja. Siang itu aku pergi ke tempat Evelyne. 

Berita Sex Guruku Lesbian Kelas Kakap

Baca Cerita seru lainya Kakakku Ternyata Lesbian
Ditengah jalan tiba-tiba hujan menyerang bumi. Aku yang tak bawa payung berlari-lari menembus hujan. Deras sekali hujan itu sampai-sampai aku benar-benar basah kuyup. Sampai di rumah Evelyne dia sudah menyongsong kedatanganku. Heran aku karena Evelyne masih mengenakan daster tipis tak bermotif alias polos. Sehingga apa yang tersimpan di balik daster itu terlihat cukup membayang. Lebih heran lagi karena Evelyne menyongsongku sampai ikut berhujan-hujan. “Aduh Mel, kehujanan yah? Sampai basah begini..” sambutnya dengan dialek Britishnya. “Evelyne, kenapa kamu juga ikut-ikutan hujan-hujanan sih, jadi sama-sama basah kan.” “Nggak apa-apa nanti saya temani Kmu sama-sama mengeringkan badan.” Kami masuk lewat pintu garasi. Evelyne mengunci pintu garasi, aku tak menaruh kecurigaan sama sekali. Bahkan ketika aku diajaknya ke kamar mandinya, aku juga tak punya rasa curiga. Kamar mandi itu cukup luas dengan perabotan yang mahal, walau tak semahal milik tanteku. Di depanku nampak cermin lebar dan besar sehingga tubuh setiap orang yang bercermin kelihatan utuh. “Ini handuknya, buka saja pakaian Kmu. Aku ambilkan baju kering, nanti Kmu masuk angin.” Evelyne keluar untuk mengambil baju kering. Aku segera melepas semua pakaianku, kecuali CD dan BH lalu memasukkannya ke tempat pakaian kotor di sudut ruangan. “Ini pakaiannya,” Aku terperanjat. Evelyne menyerahkan baju kering itu tapi tubuh Evelyne sama sekali tak memakai selembar kain pun. 
Aku tak berani menutup muka karena takut Evelyne tersinggung. Tapi aku juga tak berani menatap payudara Evelyne yang besar banget. Kira-kira sebesar semangka dan nampak ranum banget, tanda ingin segera dipetik. Berani taruhan, milik Evelyne nggak kalah sama milik si superstar Pamela Anderson. “Lho kenapa tidak Kmu lepas semuanya?” tanya Evelyne tanpa peduli akan rasa heranku. “Evelyne, kenapa kamu nggak pakai baju kayak gitu sih?” Evelyne hanya tersenyum nakal sambil sekali-sekali memandang ke arah dadaku yang terpantul di cermin. Kemudian Evelyne melangkah ke arahku. Aku jadi was-was, tapi aku takut. Aku kembali teringat pada peristiwa percobaan pemerkosaanku. Evelyne berdiri tegak di belakangku dengan senyum mengembang di bibir tipisnya. Jemarinya yang lentik mulai meraba-raba mengerayangi pundakku. “Evelyne! Apa-apaan sih, geli tahu!” Aku menepis tangannya yang mulai menjalar ke depan. Tapi secepat kilat Evelyne menempelkan pistol di leherku. Aku kaget banget, tak percaya Evelyne akan melakukan itu kepadaku. “Evelyne, jangan main-main!” aku mulai terisak ketakutan. “It’s gun, Mel and I tak sedang main-main. Aku ingin Kmu nurut saja sama aku punya mau.” Ujar Evelyne mendesis-desis di telinga. “Maumu apa Evelyne?” “Aku mau sama ini.. ini juga ha..ha..” “Auh..” Seketika aku menjerit ketika Evelyne menyambar payudaraku kemudian meremas kemaluanku dengan kanan kirinya. Tahulah aku kalau sebenarnya Evelyne itu sakit, pikirannya nggak waras khususnya jiwa sex-nya. Buah dadaku masih terasa sakit karena disambar jemari Evelyne. Aku harus berusaha menenangkan Evelyne. “Evelyne ingat dong, aku ini Melinda. Please, lepaskan aku..” “Oh.. baby, aku bergairah sekali sama Kmu.. oh.. ikut saja mau aku, yah..” Evelyne mendesah-desah sambil menggosok-gosokkan kewanitaannya di pantatku. 

Berita Sex Guruku Lesbian Kelas Kakap

Baca Cerita seru lainya Kakakku Ternyata Lesbian
Sedangkan buah dadanya sudah sejak tadi menempel hangat di punggungku. Matanya menyipit menahan gelegak birahinya. “Evelyne, jangan dong, jangan aku..” Muka Evelyne merah padam, matanya seketika terbelalak marah. Nampaknya ia mulai tersinggung atas penolakanku. Ujung pistol itu makin melekat di dekat urat-urat leherku. “Kmu can choose, play with me or.. Kmu dead!” Aah.. Dadaku serasa sesak. Aku tak bisa bernafas, apalagi berfikir tenang. Tak kusangka ternyata Evelyne orang yang berbahaya. “Okey, okey Evelyne, do what do Kmu want. Tapi tolong, jangan sakiti aku please..” rintihku membuat Evelyne tertawa penuh kemenangan. Wajah wanita yang sebenarnya mirip dengan Victoria Beckham itu semakin nampak cantik ketika kulit pipinya merah merona. Evelyne meletakkan pistolnya di atas meja. Kemudian dia mulai menggerayangiku. Evelyne mulai mencumbui pundakku. Merinding tubuhku ketika merasakan nafasnya menyembur hangat di sekitar leherku, apalagi tangannya menjalar mengusap-usap perutku. Udara dingin karena CD dan BHku yang basah membuatku semakin merinding. Jemari Evelyne yang semula merambat di sekitar perut kini naik dan semakin naik. Dia singkapkan begitu saja BHku hingga kedua bukit kembarku itu lolos begitu saja dari kain tipis itu. Setiap sentuhan Evelyne tanpa sadar aku resapi, jiwaku goyah ketika jari-jari haus itu mengusap-usap dengan lembut. Aku tak tahu kalau saat itu Evelyne tersenyum menang ketika melihatku menikmati setiap sentuhannya dengan mata tertutup. “Ah.. ehg.. gimana baby sweety, asyik?” kata Evelyne sambil meremas-remas kedua buah dadaku. “Engh..” hanya itu yang bisa aku jawab. Deburan birahiku mulai terpancing. “Engh..” aku mendongak-dongak ketika kedua puting susuku diplintir oleh Evelyne “Juude..ohh..” Aku tak tahan lagi kakiku yang sejak tadi lemas kini tak bisa menyangga tubuhku. 
Akupun terjatuh ke lantai kamar mandi yang dingin. Evelyne langsung saja menubrukku setelah sebelumnya melucuti BH dan CDku. Kini kami sama-sama telah telanjang bagai bayi yang baru lahir. “Kmu cantik banget Mel, ehgh..” Evelyne melumat bibirku dengan binal. “Balaslah Mel, hisaplah bibirku.” Aku balas menghisapnya, balas menggigit-gigit kecil bibir Evelyne. Terasa enak dan berbau wangi. Evelyne menuntun tanganku agar menyentuh buah dadanya yang verry verry montok. Dengan sedikit gemetar aku memegang buah dadanya lalu meremas-remasnya. “Ah.. ugh.. Mel, oh..” Evelyne mendesis merasakan kenikmatan remasan tanganku. Begitupun aku, meletup-letup gairahku ketika Evelyne kembali meremas dan memelintir kedua bukit kembarku. “Teruslah Mel, terus ..” Lalu Evelyne melepaskan ciumannya dari bibirku. “Agh.. Oh.. Juude..” Aku terpekik ketika ternyata Evelyne mengalihkan cumbuannya pada buah dadaku secara bergantian. Buah dadaku rasanya mau meledak. “Ehg.. No!!” teriakku ketika jemari Evelyne menelusuri daerah kewanitaanku yang berbulu lebat. “Come on Girl, enjoy this game. Ini masih pemanasan honey..” Pemanasan dia bilang? Lendir vaginaku sudah mengucur deras dia bilang masih pemanasan. 

Berita Sex Guruku Lesbian Kelas Kakap

Baca Cerita seru lainya Kakakku Ternyata Lesbian
Rasanya sudah capek, tapi aku tak berani menolak. Aku hanya bisa pasrah menjadi pemuas nafsu sakit Evelyne. Walau aku akui kalau game ini melambungkan jiwaku ke awang-awang. Evelyne merebahkan diri sambil merenggangkan kedua pahanya. Bukit kemaluannya nampak jelas di pangkal paha. Plontos licin. Lalu Evelyne memintaku untuk mencumbui vaginanya. Mulanya aku jijik, tapi karena Evelyne mendorong kepalaku masuk ke selakangannya akupun segera menciumi kewanitaan Evelyne. Aroma wangi menyebar di sekitar goa itu. Lama kelamaan aku menciuminya penuh nafsu, bahkan makin lama aku makin berani menjilatinya. Juga mempermainkan klitnya yang mungil dan mengemaskan. “Ahh.. uegh..” teriak Evelyne sedikit mengejan. Lalu beberapa kali goa itu menyemburkan lendir berbau harum. “Mel, hisap Mel.. please..” rengek Evelyne. Sroop.. tandas sudah aku hisap lendir asin itu. Suur.. kini ganti vaginaku yang kembali menyemburkan lendir kawin. “Evelyne aku keluar..” ujarku kepada Evelyne. “Oya?” Evelyne segera mendorongku merebah di lantai. Lalu kepalanya segela menyusup ke sela-sela selakanganku. 
Gadis bule itu menjilati lendir-lendir yang berserakan di berbagai belantara yang tumbuh di goa milikku. Aku bergelinjangan menahan segala keindahan yang ada. Evelyne pandai sekali memainkan lidahnya. Menyusuri dinding-dinding vaginaku yang masih perawan. “Aaah..” kugigit bibirku kuat kuat ketika Evelyne menghisap klit-ku, lendir kawinkupun kembali menyembur dan dengan penuh nafsu Evelyne menghisapinya kembali. “Mmm.. delicious taste…” Gumamnya. Evelyne segera memasukkan batang dildo yang aku tak tahu dari mana asalnya ke dalam lubang kawinku. “Ahh..!! Evelyne sakit..” “Tahan sweety.. nanti juga enak..” Evelyne terus saja memaksakan dildo itu masuk ke vaginaku. 

Berita Sex Guruku Lesbian Kelas Kakap

Baca Cerita seru lainya Kakakku Ternyata Lesbian
Walaupun perih sekali akhirnya dildo itu terbenam juga ke dalam vaginaku. Evelyne menggoyang-goyangkan batang dildo itu seirama. Antara perih dan nikmat yang aku rasakan. Evelyne semakin keras mengocok-ngocok batang dildo itu. Tiba-tiba tubuhku mengejang, nafasku bagai hilang. Dan sekali lagi lendir vaginaku keluar tapi kali ini disertai dengan darah. Setelah itu tubuhku pun melemas. Air mataku meleleh, aku yakin perawanku telah hilang. Aku sudah tak pedulikan lagi sekelilingku. Sayup-sayup masih kudengar suara erangan Evelyne yang masih memuaskan dirinya sendiri. Aku sudah lelah, lelah lahir batin. Hingga akhirnya yang kutemui hanya ruang gelap. Esoknya aku terbangun diatas rajang besi yang asing bagiku. Disampingku selembar surat tergeletak dan beberapa lembar seratus ribuan. Ternyata Evelyne meninggalkannya sebelum pergi. Dia tulis dalam suratnya permintaan maafnya atas kejadian kemarin sore. Dan dia tulis juga bahwa dia takkan pernah kembali untuk menggangguku lagi. Aku pergi dari rumah kontrakan terkutuk itu seraya bertekad akan memendam rasa jenggel karena keperawananku hilang dengan alat bantu sex sebut saja dildo dan setengahnya agak senang sih karena akupun dapet uang dari guruku itu makasi Evelin.
Baca Cerita seru lainya 
cerita dewasa kumpulan cerita sex blowjob handjob cerita sex dewasa cerita seks dewasa, tante girang daun muda pemerkosaan cerita seks artis cerita sex artis cerita porno artis cerita hot artis cerita sex cerita selingkuhan cerita kenikmatan cerita bokep cerita ngentot cerita hot bacaan seks cerita Kumpulan Cerita Seks onani dan Masturbasi cerita seks tante blog cerita seks seks sedarah seks cerita 17 tahun cerita bokep cerita biru

Senin, 26 Oktober 2015

Berita Sex Kakakku Ternyata Lesbian

Cerita Porn, Cerita Porno, Cerita Dewasa, Cersex Cerita Sex, Cerita Dewasa, Cerita Ngentot, Cerita Mesum, Cerita Sex, Cerita Lesbian, Cerita birahi, Cerita Hot, Cerita Panas, Cerita Bokep, Cerita Ganas, Cerita Seksualitas, Cerita Bispacx Terbaru.

Berita Sex Kakaku Ternyata Lesbian

Baca Cerita seru lainya Penikmat Tubuh sexi
Berita Sex kali akan bercerita tentang kisah kakak yang lesbian kisah ini mengisahkan serunya seorang adik suka ngintip kakaknya cewek masturbasi. Ga cuman suka masturbasi, ternyata sang kakak adalah seorang cewek lesbian, suka berhubungan dengan sesama jenis. Bahkan si adik pernah diajak ngentot bareng dengan teman pasangan lesbinya sang kakak. Cerita sex dewasa yang seru, panas dan layak anda baca. Namaku Tedy. Aku mahasiswa salah satu perguruan tinggi di Bandung. Saat ini aku kuliah semester II jurusan TI. Sejak awal kuliah, aku tinggal dirumah kakak ku. Kak Linda begitulah aku memanggilnya. Usianya terpaut lima tahun denganku. Ia sebenarnya bukan kakak kandungku, namun bagiku ia adalah kakak dalam arti yang sebenarnya. Ia begitu telaten dan memperhatikan aku. Apalagi kini kami jauh dari orang tua. Rumah yang kami tempati, baru satu tahun dibeli kak Linda. Tidak terlalu besar memang, tapi lebih dari cukup untuk kami tinggali berdua. Setidaknya lebih baik dari pada kost-kostan. Kak Linda saat ini bekerja disalah satu KanCab bank swasta nasional. Meskipun usianya baru Dua puluh delapan tahun, tapi kalau sudah mengenakan seragam kantornya, ia kelihatan dewasa sekali. Berwibawa dan tangguh. Matanya jernih dan terang, sehingga menonjolkan kecantikan alami yang dimilikinya. Dua bulan pertama aku tinggal dirumah kak Linda, semuanya berjalan normal. Aku dan kak Linda saling menyayangi sebagaimana adik dan kakak. Pengahasilan yang lumayan besar memungkinkan ia menangung segala keperluan kuliah ku. Memang sejak masuk kuliah, praktis segala biaya ditanggung kak Linda. Namun dari semua kekagumanku pada kak Linda, satu hal yang aku herankan. Sejauh ini aku tidak melihat kak Linda memiliki hubungan spesial dengan laki-laki.

Berita Sex Kakaku Ternyata Lesbian

Kupikir kurang apa kakaku ini ? cantik, sehat, cerdas, berpenghasilan mapan, kurang apa lagi ? Seringkali aku menggodanya, tapi dengan cerdas ia selalu bisa mengelak. Ujung-ujungnya ia pasti akan bilang, “Gampang deh soal itu, yang penting karier dulu…!”, aku percaya saja dengan kata-katanya. Yang pasti, aku menghomati dan mengaguminya sekaligus. Hingga pada suatu malam. Saat itu waktu menunjukan pukul Sembilan malam , suasana rumah lengang dan sepi. Aku keluar dari kamarku dilantai atas, lalu turun untuk mengambil minuman dingin di kulkas. TV diruang tengah dimatikan, padahal biasanya kak Linda asyik nongkrongin Bioskop Trans kesayangannya. Karena khawatir pintu rumah belum dikunci, lalu aku memeriksa pintu depan, ternyata sudah dikunci. Sambil bertanya-tanya didalam hati, aku bermaksud kembali ke kamarku. Namun tiba-tiba terlintas dibenakku, “kok sesore ini kak Linda sudah tidur ?”, lalu setengah iseng perlahan aku mencoba mengintip kak Linda didalam kamar melalui lubang kunci. Agak kesulitan karena anak kunci menancap dilubang itu, namun dengan lubang kecil aku masih dapat melihat kedalam. Dadaku berdegup kencang, dan lututku mendadak gemetar. Antara percaya dan tidak pada apa yang kulihat. Kak Linda menggeliat-geliat diatas spring bad. Tanpa busana sehelaipun !!! Ya Ampun ! Ia menggeliat-geliat kesana kemari. Terkadang terlentang sambil mendekap bantal guling, sementara kedua kakinya membelit bantal guling itu. Kemudian posisinya berubah lagi, ia menindih bantal guling. Napasku memburu. Ada rasa takut, malu, dan entah apalagi namanya. Sekuat tenaga aku tahan perasaan yang bergemuruh didadaku. Kualihkan pandanganku dari lubang kunci sesaat, pikiranku sungguh kacau, tak tahu apa yang harus kuperbuat. 

Berita Sex Kakaku Ternyata Lesbian

Baca Cerita seru lainya Penikmat Tubuh sexi
Namun kemudian rasa penasaran mendorongku untuk kembali mengintip. Kulihat kak Linda masih menindih batal guling. Pinggulnya bergerak-gerak agak memutar, lalu kemudian dengan posisi agak merangkak ia menumpuk dan memiringkan bantal dan guling, lalu meraih langerie-nya. Ujung bantal itu ditutupinya dangan langerie. Kembali aku mengalihkan pandanganku dari lubang kunci itu. Ngapain lagi tuh ?!!, aku tertegun. Entah kenapa, rasa takut dan jengah perlahan berganti dengan geletar-geletar tubuhku. Tanpa sadar ada yang memanas dan mengeras di balik training yang aku kenakan. Aku meremasnya perlahan lahan. Ketika kembali aku mengintip ke dalam kamar, kulihat Kak Linda mengarahkan selangkangannya pada ujung bantal itu, hingga posisinya benar-benar seolah menunggangi tumpukan bantal itu. Lalu tubuhnya terutama bagian pinggul bergoyang goyang dan bergerak-gerak lagi, setiap goyangan yang dilakukanya secara reflek membuat aku semakin cepat meremas batang kemaluanku sendiri. Entah berapa lama aku menyaksikan tingkah laku kak Linda didalam kamar. Nafasku memburu, apalagi manakala aku melihat gerakan kak Linda yang semakin cepat. Mungkin ia hendak mencapai orgasme, dan benar saja, beberapa saat kemudian tubuh kak Linda nampak berguncang beberapa saat, jemari kak Linda mencengkram seprai. Aku tak tahan lagi. Bergegas aku menuju kamarku sendiri. Lalu kukunci pintu. Kumatikan lampu, lalu berbaring sambil memeluk bantal guling dengan nafas memburu. Pikiranku kacau. Bagaimanapun aku laki-laki normal. Aku merasakan gelombang birahi menyala dan semakin menyala didalam tubuhku. Dan makin lama makin membara. Ah… aku tak tahan lagi. Dengan tangan gemetar aku membuka seluruh pakaian yang kukenakan, lalu aku berguling-guling diatas spring bad sambil mendekap bantal guling. Aku merintih dan mendesah sendirian. Diantara desahan dan rintihan aku menyebut-nyebut nama kak Linda. Aku membayangkan tengah berguling-guling sambil mendekap tubuh kak Linda yang putih mulus. Pikiranku benar-benar tidak waras. Aku membayangkan tubuh kak Linda aku gumuli dan kuremas remas. Sungguh aku tidak tahan, dengan sensasi dan imajinasiku sendiri, aku merintih dan merintih lalu mengerang perlahan seiring cairan nikmat yang muncrat membasahi bantal guling. 

Sejak kejadian malam itu, pandanganku terhadap kak Linda mengalami perubahan. Aku tidak saja memandangnya sebagai kakak, lebih dari itu, aku kini melihat kak Linda sebagai wanita cantik. Ya wanita cantik ! wanita cantik dan seksi tentunya. Ah…….! (maafkan aku kak Linda !) Terkadang aku merasa berdosa manakala aku mencuri-curi pandang. Kini aku selalu memperhatikan bagian-bagian tubuh kak Linda. Goblok ! mengapa baru sekarang aku menyadari kalau tubuh kak Linda sedemikian putih dan moligh. Pinggulnya, betisnya, dadanya yang dihiasi dua gundukan itu. Ah lehernya apalagi, mhhh rasanya ingin aku dipeluk dan membenamkan wajah dilehernya. “Hei, kenapa melamun aja ? Ayo makan rotinya !“, kata kak Linda sambil menuangkan air putih mengisi gelas dihadapanya, lalu meneguknya perlahan. Air itu melewati bibir kak Linda, lalu bergerak ke kerongkonganya…. Ahhh kenapa aku jadi memperhatikan hal-hal detail seperti ini ? “Siapa yang melamun, orang lagi enak nih, selai apa kak ?”, aku mengalihkan perhatian ketika kedua bola mata kak Linda menatapku dengan pandangan aneh. “Nanas ! itu kan selai kesukaanmu. awas abisin yah !”, kak Linda bangkit dari tempat duduknya lalu berjalan membelakangiku menuju wastafel untuk mencuci tangan. “OK, tenang aja !”, mulutku penuh roti, tapi pandangan mataku tak berkedip menyaksikan pinggul kak Linda yang dibungkus pakaian dinasnya. Alamak, betisnya sedemikian putih dan mulus… “Kamu gak pergi kemana-mana kan ?“, kata kak Linda. Hari sabtu aku memang gak ada mata kuliah. “Enggak…!”, kataku sesaat sebelum meneguk air minum. “Periksa semua kunci rumah ya Ted kalo mau pergi. Kemarin di blok C11 ada yang kemalingan….!”. “Mmhhh… iya, tenang aja…”, kataku sambil merapikan piring dan gelas bekas sarapan kami. Beberapa saat kemudian suara mobil terdengar keluar garasi. Lalu suara derikan pintu garasi ditutup. Dan ketika aku keteras depan, Honda CRV warna silver itu berlalu meninggalkan pekarangan. Setelah memastikan kak Linda pergi, aku kemudian mulai mengamati atap dan jarak antar ruangan. Sejak kemarin aku telah memiliki suatu rencana. Aku mau memasang Mini Camera kekamar kak Linda, biar bisa online ke TV dikamarku, he he !. Sebulan berlalu, otakku benar-benar telah rusak. Aku selalu menunggu saat-saat dimana kak Linda bermasturbasi. Dengan bebas aku melihat Live Show, lewat mini kamera yang telah kupasang dilangit-langit kamar Kak Linda. Aman ! sejauh ini kak Linda tak menyadari bahwa segala gerak-geriknya ada yang mengamati. Benar rupanya hasil survai sebuah lembaga bahwa 60 % dari wanita lajang melakukan masturbasi. Kalau kuhitung bahkan ka Linda melakukanya seminggu dua kali. Pasti tidak terlewat ! malam rabu dan malam minggu. Kasihan kak Linda. Ia mestinya memang sudah berumah tangga. Tapi biarlah, kak Linda toh sudah dewasa, ia pasti tahu apa yang dilakukannya. 

Dan yang terpenting aku punya sesuatu untuk kunikmati. Kalau kak Linda melakukannya dikamarnya, pasti aku juga. Ahh….. Seringkali ditengah kekacauan pikiranku, ingin rasanya aku bergegas kekamar kak Linda ketika kak Linda tengah menggeliat-geliat sendiri. Aku ingin membantunya. Sekaligus membantu diriku sendiri. Gak usah beneran, cukup saling bikin happy aja. Tapi aku gak berani. Apa kata dunia ? Malam ini. Aku tak sabar lagi menunggu, sudah hampir jam sembilan. Tapi kok gak ada tanda-tandanya. Kak Linda masih asyik nongkrongi TV diruang tengah. Aku kemudian bergegas keluar rumah bermaksud mengunci gerbang. “Mau kemana Ted ?”, “Kunci gerbang ah, udah malem !”, kataku sambil menggoyangkan anak kunci . “Jangan dulu dikunci, temen kak Linda ada yang mau kesini !”, “Mau kesini ? siapa kak ?”, “Santi…yang dulu itu lho !”, “Ohh…!”, aku mencoba mengingat. Yolanda ? ah masa bodo… tapi kalo dia kesini, kalo dia nginep, berarti …? Yah…! hangus deh. Aku bergegas kembali kedalam. Dan ketika aku menaiki tangga ke lantai atas, HP kak Linda berdering. Kudengar kak Linda berbicara, rupanya temennya si Yolanda brengsek itu udah mau datang. Huh ! Aku hampir aja ketiduran. Atau mungkin memang ketiduran. Kulihat jam menunjukan pukul Setengah sepuluh malam, ya ampun aku memang ketiduran. Cuci muka di wastafel, lalu aku ambil sisa kopi yang tadi sore kuseduh. Dingin tapi lumayan daripada gak ada. Lalu seteguk air putih. Lalu sebatang Class Mild. Dan, asap memenuhi ruang kamar. Kubuka jendela, membiarkan udara malam masuk kekamarku. Sepi. Temennya kak Linda udah pulang kali ?!. Kunyalakan TV, tapi hampir seluruh chanel menyebalkan, Kuis, Lawakan, Ketoprak, Sinetron Mistery, ! kuganti-ganti channel tapi emang semua chanell menyebalkan, lalu kutekan remote pada mode video…lho apa itu…?! Ya ampun ! sungguh pemandangan yang menjijikan. Apa yang akan dilakukan kak Linda dan temannya itu. Aku geleng-geleng kepala, ada rasa marah, kesal. Aku tidak menyangka kalau kak Linda ternyata menyukai sesama jenis. Apa kata Mama. Ya ampuuuuun…! Kumatikan TV. Aku termenung beberapa saat. Aku ambil gelas kopi, satu tetes, kering. Ah air putih saja. Aku habiskan air digelas besar sampai tetes terakhir. Tapi…., aku tekan lagi tombol power TV, Upps… masih On Line ! Aku melihat kak Linda dengan temannya berbaring miring berhadapan. Aku yakin mereka tanpa busana. Meskipun berselimut, bagian pundak mereka yang tak tertutup menunjukan kalau mereka tak berpakaian. Mereka saling menatap dan tersenyum. Tangan kiri kak Yolanda mengelus-elus pundak kak Linda. 

Berita Sex Kakaku Ternyata Lesbian

Baca Cerita seru lainya Penikmat Tubuh sexi
Sementara kuperhatikan tangan kak Linda nampaknya mengelus-elus pinggang kak Yolanda, tidak kelihatan memang tapi gerakan-gerakan dari balik selimut menunjukan hal itu. Lama sekali mereka saling pandang dan saling tersenyum. Mungkin mereka juga saling berbicara, tapi aku tak mendengarnya karena aku tidak memasang Mini Camera dengan Mic. Perlahan kepala kak Yolanda mendekat, tangannya menghilang kedalam selimut dan menelusuri punggung kak Linda. Aku Cemburu ! Mereka berciuman dengan penuh perasaan, perlahan saling mengulum dan melumat. fffpuih ! Ternyata benar-benar ada tugas pria yang dilakukan oleh wanita. Untuk beberapa saat mereka berciuman dan saling meraba. Aku jadi menahan nafas. Mungkin aku juga ketularan tidak waras, rasanya ada satu gairah yang perlahan bangkit didalam tubuhku. Bahkan, aku mulai mendidih ! Sesaat kak Yolanda nampak menelusuri leher kak Linda dengan bibir dan lidahnya, aku mengusap leherku sendiri. 

Entah kenapa aku merasa merinding nikmat. Apalagi melihat ekpresi kak Linda yang pasrah tengadah, sementara kak Yolanda dengan lembut bolak-balik menjilat leher, dagu, pangkal telinga. Aku tak tahan melihat kak Linda diperlakukan seperti itu. Setelah mematikan lampu, aku kemudian beranjak ke atas spring Bad, mendekap bantal guling, sementara mataku tak lepas dari layar TV. Situasi semakin seru, kak Linda kini yang beraksi, ia kelihatan agak terlalu terburu-buru. Dengan penuh nafsu ia menjilati dan menciumi leher kak Yolanda yang kini terlentang ditindih kak Linda. Kepala kak Yolanda mendongak-dongak, aku yakin ia tengah merasakan gelenyar-gelenyar nikmat dilehernya. Kemudian kak Linda berpindah menciumi dada kak Yolanda, sekarang baru nampak jelas wajah kak Yolanda. Ia ternyata cantik sekali, bahkan sedikit lebih cantik dari kak Linda. Ah aku terangsang. Tonjolan dibalik kain sarung yang kukenakan makin mengeras. Agak ngilu terganjal ujung bantal guling, sehingga perlu kuluruskan. Kak Linda benar-benar beraksi, ia menciumi dan melahap payudara kak Yolanda. Wajah kak Yolanda mengernyit, dan mulutnya terbuka, apalagi ketika kak Linda mengemut putting susunya. Ia Menggeliat-geliat sementara kedua tangannya mendekap kepala kak Linda. Bergantian kak Linda mengerjai kedua payudara kak Yolanda. Kak Yolanda menggeliat-geliat. Semakin liar, apalgi ketika kak Linda menyelinap ke dalam selimut. Tiba-tiba kepala Kak Linda muncul lagi dari balik selimut, tengadah mungkin ia tersenyum atau tengah mengatakan sesuatu, karena kulihat kak Yolanda tersenyum, lalu sebuah kecupan mendarat dikening Kak Linda. Sesaat kemudian kak Linda menghilang lagi ke dalam selimut. Kak Yolanda tampak membetulkan posisi badannya, selimutnya juga dirapihkan, aku tak dapat melihat apa yang tengah dilakukan kak Linda, tapi menurut perkiraanku kepala kak Linda tepat diantara selangkangan kak Yolanda. Entah apa yang tengah dilakukannya. Namun yang terlihat, kak Yolanda mendongak-dongak, kedua tanganya meremas-remas kepala kak Linda. Kepala kak Yolanda bergerak kekanan dan kekiri. Tubuhnya juga menggelinjang kesana sini. Kondisi seperti itu berlalu cukup lama. Aku keringatan. Nafasku memburu. Tanpa sadar kubuka kaus yang kukenakan, lalu kulemparkan kain sarungku. Kemaluanku mengeras, menuntut diperlakukan sebagaimana mestinya. Ah… edan ! Tiba-tiba aku lihat kak Yolanda mengejang beberapa kali. Pinggulnya mengangkat, kedua pahanya menjepit kepala kak Linda. Mengejang lagi, sementara kepalanya mendongak kekanan dan kiri. Ia terengah-engah, lalu sesaat kemudian terdiam. Matanya terpejam. Kemudian kak Linda muncul dari balik selimut, ia nampak mengelap mulutnya dengan selimut. Paha kak Yolanda tersingkap karenanya. Kak Yolanda kemudian meraih kedua bahu kak Linda, mendaratkan kecupan dikening, pipi kanan dan kiri kak Linda, lalu merangkul kak Linda ke dalam pelukannya. 

Beberapa saat mereka berpelukan. Aku yang menyaksikan kejadian itu hanya dapat menahan napas, sementara tangan kananku meremas-remas dan mengurut kemaluanku sendiri. Dan, kemudian mereka nampak berbincang lagi, lalu kak Linda membaringkan badanya. Terlentang. Kak Yolanda menarik selimut, lalu menyingkirkannya jauh-jauh. Kak Linda kelihatan protes, tapi protes kak Linda dibalas dengan lumatan bibir kak Yolanda. Tubuh kak Yolanda menindih tubuh kak Linda. Aku melihat, dengan mata kepalaku sendiri. Dua wanita cantik, dua tubuh indah dengan kulit putih mulus, tanpa busana, tanpa penutup apapun. Saling menyentuh. Kak Yolanda kini yang bertindak aktif, ia kini menjilati leher, pangkal leher, bahu, dada, payudara kanan dan kiri. Kak Linda nampak pasrah diperlakukan seperti itu. Kak Yolanda nampak lebih terampil dari kak Linda, hampir setiap inci tubuh kak Linda dijilati dan dikecupnya. Bahkan kini ia menelusuri pangkal paha kak Linda dari arah perut dan terus bergerak ke awah. Kak Linda hendak bangun, kedua tanganya seolah menahan kepala kak Linda yang terus bergerak ke bawah, entah mungkin karena geli atau nikmat yang teramat sangat. Tapi tangan kak Yolanda menahanya, akhirnya kak Linda menyerah. Dihempaskannya tubuhnya ke atas spring bad. Kak Yolanda kini menciumi paha, lutut, bahkan telapak kaki kak Linda. Tangan kanan kak Linda mengusap-usap kemaluannya, sementara jari-jari tangan kirinya dimasukan kedalam mulutnya sendiri. Ia mengeliat-geliat. Tubuh kak Yolanda kemudian berubah lagi. Ia kini telah siap berada diantara paha kak Linda. Kak Yolanda menarik bantal dan meletakannya, dibawah pinggul kak Linda, sehingga tubuh bagian bawah kak Linda makin terangkat. Kepala kak Linda terjepit persis diantara selangkangan kak Linda. Sebelah tangannya meremas-remas payudara kak Linda. Aku lihat tubuh kak Linda mengelinjang-gelinjang. Tak sadar aku turut merintih. Semakin kak Linda menggelinjang, nafasku semakin memburu. Tubuhku kini mendekap dan mengesek-gesek bantal guling, dan batang kemaluanku menggesek-gesek ujungnya. Nikmat, entah apa yang kini berada didalam pikiranku. Yang pasti aku turut larut dalam situasi antara kak Linda dan kak Yolanda. “Kak Lindaii… kak Yolanda……, ini Tedy… asssshhh..ahh kak…aku juga..!”, aku merintih dan terus merintih. Semakin lama kak Linda kulihat semakin liar, badannya bergerak-gerak, naik-turun searah pinggulnya. Kedua tangannya menangkup kepala kak Yolanda. Semakin lama gerakan kak Linda semakin liar, lalu pessss, TV mendadak padam. Sialan ! lampu diluar juga padam. Gelap gulita. PLN sialan ! Brengsek !!! Aku terengah-engah, dalam kegelapan. Sudah kadung mendidih, aku teruskan aksiku meski tanpa sensasi visual. Aku merintih dan mendesah sendiri dalam kegelapan. Aku yakin disana kak Linda dan kak Yolanda pun tengah merintih dan mendesah, juga dalam kegelapan……. Dor ! Dor ! Dor ! “Tedy… bangun, udah siang !“, suara ketukan atau entah gedoran pintu membangunkan aku. Rupanya sudah siang. “Bangun…!”, suara kak Linda kembali terdengar. “Iya..! udah bangun…”, teriakku. Lalu terdengar langkah kaki kak Linda menjauh dari pintu kamarku. Ya ampun ! aku terkaget. Berantakan sekali tempat tidurku. Dan bantal guling…, bergegas aku buka sarungnya. Wah nembus ! Dengan terburu-buru kurapikan kamarku, jam menunjukan pukul Delapan pagi. Kalau tidak khawatir mendengar kembali teriakan kak Linda yang menyuruh sarapan mungkin aku memilih untuk tidur lagi. 

Berita Sex Kakaku Ternyata Lesbian

Baca Cerita seru lainya Penikmat Tubuh sexi
Akhirnya aku keluar kamar, mengambil handuk, dan bergegas kekamar mandi. Didekat ruang makan aku berpapasan dengan kak Linda yang membawa nasi goreng dari dapur. Namun bukan itu yang menarik perhatianku. Rambut lepek kak Linda yang belum kering benar jelas terlihat. Aku teringat kejadian tadi malam. “abis keramas nih yee !”, kataku dalam hati. “Apa senyam-senyum gitu ?”, kak Linda menatapku heran. “Enggak …! Siapa… lagi yang senyam-senyum. Mmm enak !”, kataku sambil menyuap sesendok nasi goreng hangat. “Mandi dulu sana, dasar jorok !”, kata kak Linda sambil meletakan piring yang dipegangnya. “Jorokan juga kak Linda, gituan dijilatin hiiii….”, kataku dalam hati, tapi kemudian bergegas mandi, eh keramas juga ! Segar sehabis mandi, hampir aku balik lagi ketika menyadari dimeja makan Kak Linda tengah sarapan ditemani kak Yolanda. “Ikutan Indonesian Idol dong ted !, jangan cuma berani nyanyi dikamar mandi aja !”, itu kalimat yang pertama kudengar dari kak Yolanda. Cantik. Bener- benar cantik. Sumpah ! tapi matanya itu ! aku merasakan keliaran dimatanya ketika menatapku yang hanya terbungkus handuk sepinggang. “Eh, maaf kirain gak ada kak Yolanda, maaf yah…permisi !”, kataku sambil berlalu. Buru-buru aku ganti baju, menyisir rambut. Ah kenapa aku ingin nampak keren. Karena ada kak Yolanda yang cantik kali ya ? Pandang dari kiri dan kanan. Sip ! Turun kembali ke lantai bawah, menikmati dua wajah cantik, dan sepiring nasi goreng . “Nih buruan, sarapan dulu !”, kak Linda yang kemudian menyuruhku sarapan, sementara mereka sendiri telah selesai. 

Aku lalu sarapan dengan diawasi oleh dua mahluk cantik yang tidak buru-buru beranjak dari meja makan. Mereka berbincang ngalor ngidul seputar dunia kerja. Sesekali aku menimpali meskipun mungkin enggak nyambung. “Dasar kuli, hari libur gini masih aja ngurusin kerjaan !”, aku membatin. “Tumben dihabisin ?”, kata kak Linda melihat aku makan dengan lahap. “Abis enak sih !”, “Biasanya, dia tuh ! susah makannya, di masakin ini-itu…!”, “Bohong kak ! jangan dengerin !”, kataku menimpali ucapan kak Linda “Alah… emang biasanya gitu kok !”, kak Linda memotong ucapanku. Kak Yolanda hanya tersenyum aja. Manis lagi senyumnya. Mmmuah ! ingin rasanya kusentuh bibirnya itu. Seminggu berlalu, setiap hari rasanya aku menjadi tambah bejat. Pikiranku kotor terus. Terbayang kak Linda dan kak Yolanda. Namun yang lebih sering menari-nari dalam khayalanku kemudian adalah sosok kak Linda. Mungkin karena ia yang tiap hari ketemu. Sehingga pikiran kotorku kemudian mengacu kepadanya. Aku merasa bersalah karena kemudian khayalanku semakin kacau. Aku begitu terobsesi dengan kak Linda. Setiap menjelang tidur, pikiranku melayang-layang membayangkan kak Linda. Aku ingin merasakan kehangatan tubuh mulusnya, mengecap setiap inci kulit halusnya. …ahhhhhh…..!!! Rasanya semua hal yang berkaitan dengan kak Linda membuatku terangsang. Melihat pakaiannya yang lagi dijemur saja aku terangsang. Bahkan entah berapa kali ketika kak Linda tidak ada dirumah, aku mempergunakan benda-benda pribadi kak Linda menjadi objek fantasiku. Dan makin lama aku makin berani, hingga aku melakukan self service, di kamar kak Linda, ketika tidak ada kak Linda tentunya. Seperti siang itu, sebotol Hand Body Lotion milik kak Linda kugenggam erat. Aku terlentang diatas spring bad kak Linda. Isi lotion telah kukeluarkan sehingga melumuri kemaluanku yang mengacung. Kuurut perlahan, menikmati sensasi yang membuai, sambil sesekali aku menciumi celana dalam pink kak Linda. Aku benar-benar hanyut dan terbuai dalam kenikmatan. 

Sehingga aku tak begitu menghiraukan ketika ada suara-suara didepan rumah. Ah… kak Linda biasanya pulang jam setengah tujuh pagi, sekarang baru jam 2 siang…. Aman..Ach….shhhh….. Aku terhanyut dan bergelenyar penuh kenikmatan hingga…. Jeckrek !!! kunci pintu depan dibuka dari luar, lalu pintu terbuka. Seseorang masuk. Ya ampun ! aku sungguh panik. Kak Linda Pulang !!! Dengan gemetar dan penuh ketakutan aku mengenakan celana. Ya ampun, berantakan begini, dan… Hand Body Lotion tumpah… mati gue ! Tak dapat dicegah karena pintu kamar memang tak kukunci. Blak…pintu didorong dari luar… “Tedy…! Ngapain kamu ?”, mata kak Linda menatapku tajam. “ng..mmm ini lagi !”, aku tak berkutik. Baju yang kugunakan mengelap ceceran Hand Body Lotion di seprai kugenggam erat. Wangi Hand Body Lotion tercium kemana-mana. Keringat dingin membasahi tubuhku yang hanya mengenakan training. Napasku tercekat manakala menyadari tatapan kak Linda ke atas tempat tidur, celana dalam ka Linda, langerie kak Linda, bantal guling, dan celana dalamku yang tak sempat kupakai atau kusembunyikan. Shittttt….sialan! Kak Linda menghela nafas panjang dan berat, tatapannya sungguh menakutkan. Aku menggigil gemeteran. Kak Linda pastinya dapat menebak kelakuanku. “Kok cepet pulangnya kak ?”, dengan susah payah aku bersuara. Tapi kak Linda tak memperdulikanku. Ia berlalu, langkah kakinya menjauhi kamar. 

Lalu terdengar dentingan gelas, dan pintu lemari es dibuka. Bergegas aku membereskan segala yang berantakan, sekedarnya. Lalu buru-buru meninggalkan kamar kak Linda ! “Anjing…!, brengsek “, kataku sambil meninju dinding. “Bodoh, bodoh !”, aku mengutuk diriku sendiri. Aku malu sekali. Dengan penuh ketakutan aku bergegas ganti baju. Pikiranku kacau sekali. Aku dengan mengendap keluar rumah, motorku-pun kudorong keluar halaman. Lalu aku kabur…ketempat kost temanku. Tiga hari aku aku tak pulang, temanku sampai terheran-heran dengan kelakuanku. Tapi aku simpan rapat-rapat masalah yang sebenarnya. Aku hanya bilang lagi berantem sama kakaku. Tadinya aku kebingungan juga kelamaan tidak pulang, mau pulang juga rasanya bagaimana. Namun sebuah telpon dari kak Linda membuat semuanya lebih baik, “Tedy kamu kemana aja ? kamu dimana ?”, terdengar suara kak Linda di HP ku, datar. dirumah temen kak ?”, kataku sedikit bergetar. “Pulang…nanti kalo mamah nanya gimana ?”, suara kak Linda masih terdengar datar. Tapi setidaknya hal itu membuatku sedikit lega. “Iya kak !”, lalu tak terdengar lagi suara kak Linda. Aku tertegun beberapa saat, namun kemudian aku memutuskan untuk pulang. Tiba dirumah, tatapan kak Linda menyambutku. Aku tak berani menatap wajahnya. “kamu kemana aja ?”, suara kak Linda masih terdengar datar seperti ditelepon. “Mmm…dari rumah Wawan kak !”, “Makan dulu…tuh kakak udah masak !”, terdengar suara kak Linda dari ruang tengah. “Iya kak !”, bergegas aku ke meja makan. Melahap makanan yang tersedia dimeja makan, emang gua laperrrr ! Besoknya, suasana masih terasa amat hambar. Kak Linda tak mengucap sepatah katapun. Ia membuang muka ketika berpapasan dengan aku yang bermaksud ke kamar mandi. Selesai mandi, ganti baju, kembali keruang makan. Aku dan kak Linda sarapan seperti biasanya, tapi rasanya suasana betul-betul mencekam. Kak Linda nampak buru-buru menyelesaikan sarapannya. Akupun bergegas menghabiskan sisa makananku. “Kak, maafin Tedy yah !”, kataku sambil meletakan gelas yang airnya habis kuteguk. Kak Linda tak bersuara, tapi matanya menatapku, penuh keheranan dan tanda tanya, atau mungkin tatapan apa itu artinya. Entahlah. 

Berita Sex Kakaku Ternyata Lesbian

Baca Cerita seru lainya Penikmat Tubuh sexi
Beberapa hari kemudian setelah situasi dirumah mulai terasa normal, malam itu kak Linda diruang tengah nonton TV atau mungkin membaca majalah. Entahlah atau bisa kedua-duanya, soalnya TV dinyalakan tapi ia asyik membaca majalah sambil telungkup dipermadani. Dagunya diganjal dengan bantal guling. Aku kemudian duduk disofa, tepat dibelakangnya. Rasanya badanku gemetar menyaksikan pandangan dihadapanku. Sittttt !!!! Pikiran gilaku melintas lagi. Pantat kak Linda yang hanya dilapisi selembar baju tidur tipis begitu indah terlihat. Garis celana dalam yang dikenakanya nampak menggurat. Betisnya itu, alamak. Aku tak tahan ingin mengecapnya dengan lidahku. Dan… “Bikin minum dong, haus nih…!”, Kak Linda membalikan badannya, dan melihat kearahku yang tengah menikmati bagian belakang tubuhnya. “Orange, atau susu ?”, tanpa sadar aku melirik kearah dadanya. Kak Linda merasakan pandangan mataku, ia membetulkan leher bajunya. “Susu deh ! tapi jangan penuh-penuh yah !”, “Ok !”, lalu aku pergi ke ruang sebelah. Seperti kebiasaannya kalau bikin susu ia pasti hanya minta setengah gelas. “Takut gak abis”, katanya ! “Nih kak !”, kataku sambil meletakkan gelas susu disebelah kanan. Lalu aku bergerak kesebelah kiri kak Linda. Kak Linda segera mereguk minuman yang kusediakan untuknya itu. Aku sendiri meraih majalah yang tengah dibaca Kak Linda. “Ih apaan nih, sini ! orang lagi dibaca juga !”, kak Linda berusaha meraih majalahnya kembali. 

Akhirnya kulepaskan. Aku mengambil remote TV. Sambil tengkurap disamping kak Linda, aku memindah-mindah chanel. “Kebiasaan Tedy mah, pindah-pindah terus, balikin TransTV !”, katanya sambil berusaha meraih remote. Akupun menyerah, kukembalikan channel ke TransTV. Lalu aku memiringkan badan, sekarang aku menghadap kearah kak Linda. Menatapnya dalam-dalam. Ah… kakak ku sayang, engkau cantik sekali. Lalu aku mutup kedua mataku rapat-rapat. “Kak mau tanya, boleh ?”, kataku sambil tetap memejamkan mata. “Tanya apa sih !”, ia menjawab tanpa menoleh. “ng…mmmm kenapa Tedy akhir-akhir jadi aneh yah ?”, “Maksudnya apa ?”, “Tapi kak Linda jangan marah yah !”, “Akhir-akhir ini, tedy sering error. Pikiranya yang begituuu.. aja. Gak siang gak malem, pusing deh !”, “Mikirin apa sih ?”, “Ah… kak Linda ini. Maksud Tedy… mmm jangan marah yah. Rasanya Tedy gampang terangsang deh !”, kubuka mataku, keterkejutan nampak diwajah kak Linda. Lalu ia menghela nafas panjang. “Kebanyakan nonton film jelek kali. Tuh dikomputer hapus-hapusin gambar gambar jelek kayak gitu !”, “Bisa juga sih…, kalau masturbasi bahaya enggak sih kak?”, aku kembali melontarkan pertanyaan yang mengagetkannya. ”Apaan sih gituan di tanya-tanyain ?!”, nampak kak Linda agak gusar menimpali pertanyaanku. “Kalau kata temen tedy sih, mendingan masturbasi daripada main sama cewek nakal, bisa penyakitan !”, Tak terdengar komentar. Waduh aku kehabisan kata-kata. “Sebenarnya gara-gara kak Linda sih !”, dan aku menunggu. Benar saja, kak Linda bereaksi. Ia menatapku penuh tanya. “Menurut sebuah survai, enam puluh persen wanita lajang melakukan masturbasi, bener kan ?”, aku kembali melontarkan pukulan kata-kata. “Kata siapa kamu ?”, “Kata koran dan… lubang kunci !”, “Maksud Tedy apa sih…? Kakak jadi pusing !”, “Tedy tahu rahasia kak Linda !”, “Rahasia apa ?”, “Kak Linda suka menggeliat-geliat ditempat tidur tanpa pakaian dan memeluk bantal guling !”, akhirnya. Mata Kak Linda membeliak kaget. Tatapan matanya menyiratkan rasa marah dan malu, tapi ia berusaha menutupinya. “Kamu ngintip ?”, “Gak sengaja sih…!”, kubenamkan mukaku dipermadani sambil menunggu efek selanjutnya. “Tapi tenang aja. Rahasia kak Linda aman kok ditangan Tedy. Dan rahasia Tedy ada ditangan kak Linda. Sama-sama aman ok ?!”, Kak Linda tak bersuara. Benar-benar terdiam. Ia malah membolak-balikan halaman majalah. “Meskipun ada satu rahasia lagi !”, tampak wajah kak Linda kembali menegang. Pandanganya mengarah kepadaku, yang kini juga menatapnya. “Kak Yolanda… !”, kataku. Kak Linda benar-benar terhenyak. Ia bangkit hingga terduduk. Aku membalikan badan, terlentang disamping kak Linda. “Tenang aja. Tedy gak akan membocorkannya ke siapa-siapa kok !”, “Tedy tahu semuanya ?”, kata kak Linda tiba-tiba. Pandangan matanya kini memelas dan penuh ketakutan. Aku menganggukan kepala. “Jangan bilang siapa-siapa, jangan bilang mamah. Please !”, kak Linda mengguncang bahuku. “Tenang…pokoknya aman !”, Kak Linda nampak gelisah. Aku tidak tega melihatnya. Kak Linda yang sangat baik padaku telah aku antarkan pada suatu kondisi serba salah dan menakutkan baginya. Tapi sudahlah. Tiba-tiba terdengar dering telp, bergegas aku bangun dan mengangkat gagang telpon. “Halloo..!”, terdengar suara perempuan diseberang sana. “Hallo…!”, kataku “Ini tedy yah ?, kak Linda ada ?”, suara itu terdengar lembut. “ng.. ini siapa yah ?”, kataku sambil menduga-duga. “Ini Yolanda…kak Linda-nya ada ?”, “Ada…sebentar ya kak !”, kataku. “Kak… ini kak Yolanda !”, kataku pada kak Linda. 

Kulihat tiba-tiba expresi kak Linda menegang. Namun tak urung ia mendekatiku, dan menerima gagang telepon yang kusodorkan. “Haloo..”, Aku bergegas pergi, tak ingin mengganggu “sepasang kekasih” yang telepon-an. Aku naik ke lantai atas, menuju kekamarku sendiri. Kukunci pintu kamar, mematikan lampu, dengan perasaan campur aduk. Beberapa saat kemudian kudengar langkah kaki kak Linda di tangga menuju kearah kamarku. Lalu tiba-tiba aku mendengar ketukan dan suara kak Linda. Aku terdiam, menunggu. “Tedy…!”, kembali terdengar ketukan. Kunyalakan lampu lalu membuka kunci pintu kamar. Tanpa kupersilahkan kak Linda menyeruak masuk lalu duduk dipinggir tempat tidur. “Tedy…”, kak Linda tiba-tiba memecahkan keheningan. Aku yang hendak menyalakan rokok, menoleh. Kulihat kak Linda menatapku dalam-dalam. Nampaknya ada sesuatu yang ingin diucapkanya. Tak jadi menyalakan rokok. Aku menarik kursi, dan membalikanya sehingga menghadap kearah kak Linda. Lalu aku duduk dihadapan kak Linda. “Tedy bisa pegang rahasia kan ?”, ia menatapku sungguh-sungguh. Ada ketakutan dimatanya. “Masalah apa ?”, “Yolanda…!”, “Oh…!”, aku mengangguk perlahan. “Jangan sampai Mamah tahu !’, Aku hanya menatapnya, lalu tersenyum hambar. “Janji ?!”, kak Linda menatapku dalam-dalam. “Janji !”, kataku sambl mengacungkan telunjuk dan jari tengahku. “Tedy boleh minta apa aja, pasti kakak turutin, syaratnya satu, gak boleh bocorin rahasia !”, “Tenang…aman !’, kataku agak bergetar. “Tedy mau minta apa sama kaka?”, nampaknya kak Linda mencoba bernegosiasi, he he…. “ng…gak minta apa-apa deh…mmm…”, sungguh tak terpikir untuk minta sesuatu pada kak Linda, lagi pula aku sama sekali gak kepirkiran untuk membocorkan rahasianya. Namun tatapan liarku kearah dada ka Linda sungguh dinterpretasikan oleh kak Linda. “Kakak tahu kok apa yang Tedy inginkan, sini…!”, kak Linda menepuk spring bad, mungkin maksudnya menyuruhku duduk disampingnya. Aku ragu sesaat. “Sini….!”, katanya mengulang. Meskipun ragu aku kemudian beranjak, dan dengan bingung aku duduk disebelahnya. Darahku berdesir saat jemari lembut kak Linda mengusap punggung tanganku. Lalu ia meraih telapak tanganku. Jemari tanganku digenggamnya. “Pasti Tedy sekarang lagi error !”, tiba-tiba kak Linda berkata datar, “Apaan sih kak ?”, kataku agak jengah. “Pake pura-pura lagi !”, kak Linda mendorong tubuhku. Karena Kak Linda mengisyaratkan agar aku terlentang maka aku segera terlentang dengan kakiku menjuntai kelantai. “Tedy pengen ini kan ?”, jemari kak Linda merayapi pahaku. Aku terhenyak menahan nafas. Kemudian kak Linda tanpa ragu mulai meremas kemaluanku perlahan, ahh….., kedua lututku terangkat parlahan, lalu kuturunkan lagi. “Kak…”, kataku lirih “sst…kakak tahu apa yang Tedy inginkan, tenang aja…”, kak Linda benar-benar meremas-remas kemaluanku. Geletar nikmat perlahan merayap, seiring makin mengerasnya batang kemaluanku. Kuraih bantal, kudekap hingga menutupi mukaku. Rasa jengah dan nikmat membaur menjadi satu. “Pake malu-malu lagi !”, kak Linda memaksaku melepaskan bantal. Akhirnya untuk aku hanya bisa menutup mata dan menikmati gelenyar kenikmatan dari setiap remasan tangan kak Linda. “Ah…shhh..kak….!”, Tanganku perlahan merayap kearah pinggang kak Linda, meremasnya perlahan seiring geliat kenikmatan. Aku semakin berani karena kak Linda tak menolak remasan tanganku dipinggangnya. Tiba-tiba, “Udah ya…cukup segitu aja !”, tiba-tiba kak Linda menghentikan remasan tanganya. “Ah kakak !”, aku merintih kecewa, hampir aku melonjak bangun. “Kenapa ?”, ia menatapku, sebuah senyum seolah menggoda aku yang tengah konak. “Tanggung…please…!”, aku merintih dan memelas. “Dasar….”, katanya sambil memijit hidungku. Tanpa ragu aku melepaskan training yg kukenakan, kemaluanku yg sungguh telah mengeras, mendongak… Nampak ada rasa jengah pada tatapan kak Linda, aku bangkit dari tidurku, “Please…!”, lalu kuraih tangan kak Linda agar menjamah kemaluanku. Akhirnya tak urung kak Linda menuruti kemauanku. Kembali kuhempaskan tubuh, lalu menunggu kak Linda melakukan hal yg seharusnya. Tangan lembut dan halus kak Linda menggenggam kemaluanku, nampaknya ia agak ragu, badanku mengerjap sesaat, ketika tangan kak Linda mulai meramas kemaluanku dengan perlahan. Kupenjamkan mata, menikmati setiap kenikmatan yang datang. 

Berita Sex Kakaku Ternyata Lesbian

Baca Cerita seru lainya Penikmat Tubuh sexi
Semakin lama keinginanku semakin kuat. Aku merintih, mendesah dan sesekali menggeliat. Remasan tangan kak Linda memang nikmat, namun semakin lama aku menginginkan lebih, lalu aku meraih Hand Body dari sela-sela pinggir springbad, dengan gemetar kusodorkan pada kak Linda. “Apa ini ?”, Meski terlihat ragu, perlahan kak Linda meraih Hand Body Lotion, membuka tutupnya, menumpahkannya ditangan kanannya. Lalu ia melumuri kemaluanku. Ahhh.. “Maafin Tedy ya kak !”, “Iya anak nakal !”, katanya. Mungkin seharusnya ia tersenyum tapi aku tidak melihatnya. “Digimanain ?”, katanya berbisik perlahan. “Urut aja, keatas dan kebawah, pelan-pelan !”, “Begini…!”, “Ya…ah… shhh… kak Linda…!”, akupun tenggelam dan terbuai dalam kenikmatan. Belaian lembut tangan Kak Linda sungguh membuat aku terlena. Dan tanpa kuminta kak Linda telah cukup paham ketika sudah agak mengering dan kesat ditambahkannya lagi cairan Hand Body itu. Ia telah tahu yang kuinginkan. Caranya mengurut dan meremas sungguh sempurna. Aku kemudian hanya bisa pasrah, merintih dan mendesah. “ssshhhh… kaka…mkasihhhh…. Mmmm shhhhh enak !”, Aku terus merintih dan merintih. Kak Linda benar-benar memanjakan aku. Ia mengurut dan membelai membuat aku terasa melambung-lambung. Tapi lama kelamaan ada rasa ngilu dikemaluanku. Makin lama makin ngilu. “kenapa ? udah ?”, kak Linda bertanya ketika tanganku menahan gerakan tanganya yang masih mengurut dan membelai. “Ngilu…!”, kataku berbisik. Lalu aku bangkit dari tempat tidurku, sehingga kami duduk berdampingan. Kak Linda terlihat berusaha mengelap cairan Hand Body yang berlepotan ditanganya. Trainingku menjadi korban. Tanggung sekalian kotor, akupun mengelap kemaluanku dari cairan handbody. Kami terdiam, beberapa saat. “Tahu enggak sebenarnya Tedy suka pake bantal guling. Seperti Kak Linda !”, “Apa enaknya…!”, pertanyaan itu seolah terlontar begitu saja. “Ya enak aja. Gesek-gesek. Sambil membayangkan sedang memeluk kak Linda !”. “Dasar !”, ia memelintir kupingku. “kak Linda…!”, ‘Apa..?”, ‘Tanggung nih !”, “Tanggung apanya ?”, “Pura-pura jadi bantal guling mau ?”, “Apalagi nih !”, “Tedy gak tahan nih. Tapi kak Linda gak usah khawatir. Tedy gak merusak apapun. Kak Linda tetap berbaju lengkap. Kak Linda hanya berbaring aja. Nanti Tedy…!”, kak Linda terdiam tak menjawab. “Cuma gesek-gesek aja !”, aku kemudian menandaskan. “Gimana ? kamu ini aneh-aneh aja ?”, “Berbaring dulu kak Linda-nya. Pokonya aman deh. Tedy gak bakalan merusak apapun. Janji !”, kataku sambil setengah mendorong tubuh kak Linda. Kak Linda tak urung menurut. Ia beringsut keatas spring bad, lalu kubaringkan tubuhnya hingga terlentang. 

Dengan bergetar kemudian aku berbaring menyamping. Lalu kakiku menyilang keatas dua kakinya. Selangkanganku kini menempel ke pahanya. Sayang masing terlindung pakaian yang dikenakannya. Tapi lumayan enak. Lalu aku mulai menggesek-gesekan kemaluanku kepaha kak Linda. Rasa nikmat perlahan mengalir seiring gesekan itu. Makin lama makin terasa enak. Tangan kak Linda kupaksa agar mau melingkari pinggangku. Aku terus menggesek dan menggesek. Sesaat aku lepaskan bajuku, aku kini telanjang bulat, menelungkup tubuh kak Linda yang masih terbungkus Langerie… ”shhhh…. Mmmm enak kak. Enak ! shhhhh ahhhh shhh !”, tanpa sadar aku menciumi bahu kak Linda. Aku semaki berani karena kak Linda membiarkan aku menciumi pundaknya. Makin lama tubuhku makin bergeser. Tahu-tahu aku kini berada diantara dua paha kak Linda. Kemaluanku menggesek-gesek persis kemaluan kak Linda. Sungguh nikmat. Geletar-geletar birahi makin memuncak. Aku mendesis dan merintih sambil sesekali mendaratkan ciuman ke pundak kak Linda. Lambat laun aku menyadari, setiap aku bergerak dan menggesek, tubuh kak Linda ikut bergerak seirama gerakan tubuhku. Bahkan beberapa kali ia membetulkan posisi pinggangku. Kemaluanku terus menggesek-gesek kemaluan kak Linda. Dan terus bergoyang-goyang berirama. “Kurang keatas…sakit tahu !”, suara ka Linda terdengar memburu. Aku menurut. Aku bergerak lebih keatas. Paha kak Linda bergerak seolah memberi ruang agar tubuhku bergerak lebih leluasa. “Pelan…pelan…”, ia mendesis, “Enak kak?’, akhirnya kulontarkan pertanyaan itu. Kak Linda terdiam. Namun nafasnya semakin terdengar memburu. Jemari tangannya terasa meremas-remas punggungku. Tanpa meminta persetujuan aku berusaha meraih celana dalam kak Linda. “Mau apa ?”, “Biar gak sakit lepasin aja yah ?”, ia sedikit mempertahankanya. “Please !”, kataku. Akhirnya kak Linda menurut. Bahkan kakinya bergerak-gerak membantuku melepaskan celana dalam itu. Aku tidak bermaksud menyetubuhi kak Linda. Tidak benar-benar maskudku. Biar bersentuhan lebih dekat aja. Dan untuk pertama kalinya dalam hidupku. Kemaluanku menempel pada kemaluan wanita. Sungguh sensasinya luar biasa. Kemaluanku mengarah kebawah, terjepit diantara paha kak Linda. Lalu aku mulai menggesek-kesekanya. Ada sesuatu yang hangat namun basah dibawah sana. Semakin kugesekkan semakin terasa nikmat. Tiba-tiba aku mendengar kak Linda mendesah pelan. Kepalanya mendongak. Kuulangi gerakan dan gesekanku, kembali ia mendesah. Akhirnya kuulangi gesekan diwilayah itu. Aku senang mendengar kak Linda mendesah-desah dan merintih. Kami ternyata berada pada posisi saling berdekapan. Wajah kami begitu dekat. Aku merasakan semburan nafas hangat kak Linda. Dengan lembut kudaratkan bibirku didagunya. Kemudian bergeser, perlahan. Akhirnya bibir kami bertemu. Bibir kak Linda awalnya diam tak bereaksi ketika bibirku berusaha melumat, tapi lama kelamaan bibir itu membalas lumatan bibirku. Kami berpagutan dan saling melumat. Semakin lama segalanya semakin liar. Aku kini bahkan sudah mengecap, menjilat bahkan setengah menggigit leher kak Linda. Ketika jilatan lidahku menyerang pangkal leher dibawah telinganya, kak Linda mendesah dan merintih. Aku kini benar-benar membuat kak Linda menjadi hilang kesadaran. Ia telah menjadi benar-benar liar. Diarahkannya kepalaku untuk menciumi dadanya. Aku maklum dengan apa yang diinginkan kak Linda. Aku bangit dari cengraman tubuhnya. Lalu dengan gemetar kubuka Langerie yang dikenakan kak Linda. 

Kemudian Bra yang dikenakannya. Kini tubuh kak Linda tak berbalut selembar benangpun, sebagaimana aku. Tak tahan berlama-lama aku merangkul tubuh kak Linda. Aku menggumulinya dengan penuh nafsu. Aku jilat setiap inci tubuhnya, semakin kak Linda merintih semakin aku mejilat dan menggigit. Putting susunya bergantian aku lahap. Aku bagai orang yang kesetanan. Tanpa terasa aku mulai menjilati tubuh kak Linda bagian bawah. Bahkan aku kini mulai menciumi pangkal paha dan selangkangannya. Kak Linda merintih dan melenguh. Aku tak tahu bagaimana cara menjilat yang baik dan benar. Pokonya semakin keras rintihan kak Linda semakin lama aku menjilat. Kupingku terasa berdenging dan pekak karena terjepit kedua paha kak Linda. Aku menjilat dan terus menjilat kemaluan kak Linda. Meskipun hidungku mencium aroma yang aneh, dan lidahku mengecap rasa yang aneh pula. Aku terus menjilat. Bahkan bibirkupun mencium bagian-bagian kemaluan kak Linda. Aku bahagia mendengar kak Linda Merintih-rintih dan menjerit. Sampai kemudian kak Linda menarik kepalaku. “Sudah-sudah ! ngilu !”, “Ngilu ?”, batinku. Bukanya enak ? Nafas kak Linda tersengal-sengal. Aku segera mengelap mulutku dengan baju kak Linda, mengusir perasaan tidak nyaman dimulutku. Namun aku masih bernafsu. Ketika aku bermaksud menaiku tubuh kak Linda. “Tunggu sebentar. Masih ngilu !?”, katanya. Akhirnya aku hanya dapat menciumi perut dan dada serta payudara kak Linda. Kedua tangan kak Linda membelai-belai rambutku. Tubuhku perlahan mulai merayap kembali. Masuk kedalam dekapan hangat tubuh kak Linda. Rasa nikmat itu perlahan kembali mengalir. Kemaluan kami kembali bergesekan. Dan aku mulai meracau… “Jangan !”, kak Linda menahan tubuhku. Aku tak tahan lagi. Aku ingin memasukannya. Aku ingin merasakan terbenam dalam lembah kenikmatan itu. “Jangaaaaannn… please ! Tedy jangan !”, kak Linda memohon ketika aku mencoba dan memaksa untuk kedua kalinya. “Tedy udah gak tahan kak ! gak tahan lagi !”, “Tapi Tedy udah janji, gak bakalan merusak.!”, kak Linda menghiba. “Tedy udah gak tahannnnnn….shhhh !”, “Kak Linda juga sama. Tapi please jangannnn shhh !”, Kak Linda berbisik dengan nafas memburu. Aku tak tahan lagi. Namun kemudian otak warasku hadir. Kalau dengan bantal guling saja aku bisa puas, kenapa sekarang enggak. Aku ambil celana dalam kak Linda, lalu kugunakan untuk menutupi kemaluan kak Linda. “Tedy pengen keluar disini, boleh yah !”. setengah memohon aku berbisik. Karena tak dilarang segera aku memposisikan kemaluanku. Mengarah kebawah dan terjepit paha kak Linda. Kedua Kemaluan kami hanya dipisah selembar celana dalam. Dan aku kemudian mulai menggesek. Mencari sensasi kenikmatan itu. Aku menggesek dan menggesek. Tak beberapa lama, gelombang kenikmatan itu datang. Cratt cratt….. Aku terkapar diatas tubuh kak Linda. Terdiam beberapa saat, sebelum kak Linda mendorong tubuhku yang menindih tubuhnya. Aku terbaring ke samping. Ingin rasanya aku memeluk kak Linda berlama-lama. Tapi kak Linda buru-buru bangkit. Dikenakannya Langerie-nya kembali. Lalu bergegas ia keluar dari kamarku. Celana dalamnya yang basah berlumuran ditinggalkannya ! Sejak saat itu, rahasia dirumah ini bertambah, sampai sekarang kami terus melakukanya, tidak terlalu sering memang, namun ketika aku menginginkan atau ketika kak Linda “kepengen” (begitulah istilah kak Linda), maka kami akan melakukannya. Didapur, dikamar mandi, diruang tengah, bahkan diruang tamu. Satu hal yang tetap kami jaga, kami tidak benar-benar bercinta, sungguh akupun komit dengan janjiku, aku teramat menyayangi kak Linda, aku tak ingin merusaknya, semua yang kuperoleh telah lebih cukup bagiku.aku ndak ingin kelilangan kak linda yang aku sayangi aku pengen selalu di sampingnya dan tinggal bersamanya seterusnya.

cerita dewasa kumpulan cerita sex blowjob handjob cerita sex dewasa cerita seks dewasa, tante girang daun muda pemerkosaan cerita seks artis cerita sex artis cerita porno artis cerita hot artis cerita sex cerita selingkuhan cerita kenikmatan cerita bokep cerita ngentot cerita hot bacaan seks cerita Kumpulan Cerita Seks onani dan Masturbasi cerita seks tante blog cerita seks seks sedarah seks cerita 17 tahun cerita bokep cerita biru

Rabu, 07 Oktober 2015

Berita Sex Nikmatnya Pelukan Rina

Cerita Sex, Cerita Dewasa, Cersex Cerita Sex, Cerita Dewasa, Cerita Ngentot, Cerita Mesum, Cerita Sex, Cerita Lesbian, Cerita Bispacx Terbaru 2015.


Berita Sex Nikmatnya Pelukan Rina

Ini adalah cerita tentang pengalamanku saat berhubungan seks dengan sahabat baikku  Rina . Pagi ini aku kembali mendapat kuliah sore hari. daripada iseng lebih baik aku ke rumah Rina. Sekalian dari sana pergi ke kampus bersama. Aku memarkir mobil di depan pintu pagar rumah Rina. Rumahnya tampak sepi. Jangan-jangan ia tak ada di rumah. Aku tekan bel pintu. Tak lama kemudian pembantunya keluar. "Ada perlu apa, Non?" tanyanya. "Ng.. Rina ada, Mbak?" "Ada, tunggu sebentar ya. " Sang pembantu masuk ke dalam rumah kembali. "Kata Non Rina, Non Irene disuruh langsung masuk saja. Non Rina lagi ada di kamarnya." "Baiklah, Mbak." Pembantu itu mengantarkan aku ke depan pintu kamar tidur Rina. 
Berita Sex Nikmatnya Pelukan Rina

Setelah pintu dibuka dari dalam aku segera masuk. Si pemilik kamar sedang duduk di atas tempat tidur seraya membaca buku. Astaga! Ia telanjang bulat. Tubuhnya yang indah itu tidak ditutupi oleh selembar benang pun. Tampaklah payudaranya yang montok dan padat. Ditengah-tengahnya terdapat puting susu yang tinggi, yang dikelilingi oleh lingkaran coklat, sementara bagian kemaluannya ditumbuhi rambut-rambut tipis. Pahanya yang putih dan mulus menantang setiap lelaki untuk menjamahnya. "Ren, duduk di sini dong. Jangan bengong saja." "Lho, kamu lagi ngapain, Rin?" tanyaku. "Rasanya hari ini aku lagi malas kuliah nih, Ren." "Kenapa?" "Nggak tahu tuh. Pokoknya lagi malas." "Tapi kamu nggak usah telanjang bulat kayak begitu dong", kataku sambil menyodorkan kaus singlet kepadanya. Rina bukannya menerima pemberianku, namun ia malah menyeret tanganku sehingga aku jatuh telentang di atas kasur. 

Berita Sex Nikmatnya Pelukan Rina

 Tiba-tiba Rina mencium bibirku, sementara tangannya meremas-remas payudaraku yang tidak begitu besar. "Gin! Aduh, kok kamu begini sih?! Jangan ah!" kataku sambil berusaha melepaskan diri. Akan tetapi Rina lebih kuat. Tubuhnya yang bugil menindih tubuhku. Akhirnya aku pasrah saja. Dengan perlahan-lahan Rina menanggalkan kaus oblong yang kukenakan. Ia menyelipkan tangannya ke balik mangkuk behaku lalu meremas payudaraku. Aku menggerinjal-gerinjal dibuatnya. Kemudian ia melepaskan beha yang kupakai sehingga terbukalah payudaraku yang kencang menantang. "Ya ampun, Ren. Buah dada kamu bagus amat. Biar nggak besar, tapi kencang dan kenyal lho", kata Rina sambil mempermainkan puting susuku dengan jari-jemarinya yang lentik sehingga membuatku kegelian. Aku hanya tersenyum saja. Lalu ia meremas-remas payudaraku. Terasa kenyal dan ketat baginya. Aku semakin menggerinjal-gerinjal. Setelah itu mulutnya menghisap, mengulum, dan menyedot payudaraku. Lidahnya pun mempermainkan puting susuku yang mulai menegang. Kemudian ia menghisap-hisapnya laksana seorang bayi yang kehausan air susu ibunya. Setelah puas merambah payudaraku, Rina membuka celana panjangku. Tangannya meraba pahaku yang mulus. Lalu ia menurunkan celana dalamku, sehingga kami berdua bugil bagai dua orang bayi yang baru saja dilahirkan. 

 Kemudian ia menyuruhku duduk. Ia menyodorkan payudaranya ke mulutku dan aku menerimanya. Aku lumat payudara yang kenyal itu dengan mulutku, sedangkan lidahku yang menyambar-nyambar seperti lidah ular, bergoyang-goyang mempermainkan puting susunya yang tinggi menggiurkan. Aku hisap puting susu itu yang semakin lama semakin menegang saja. Rina semakin memelukku dengan erat. "Ouuhh.. Irene.. ouuhh!" Aku dan Rina saling berpelukan. Kedua pasang payudara kami saling bersentuhan. Sejenak ada perasaan aneh yang menjalar ke seluruh tubuhku merasakan payudaranya yang kenyal. Demikian pula Rina yang merasakan payudaraku. Ia menggesek-gesekkan puting susunya ke puting susuku, sehingga kami berdua sama-sama mendesah. "Ouuhh.. ouuhh.." aku menjerit kecil tatkala lidah Rina mulai menjilati kemaluanku dan kemudian masuk menyusuri liang vagina Rina. Ia menjilat-jilat bagian dalam "daerah terlarang"ku yang mulai basah itu. 

Berita Sex Nikmatnya Pelukan Rina

Aku menjerit lagi, ketika ujung lidahnya mempermainkan daging kecil yang menempel pada kewanitaanku itu. Lalu aku berdua berbuat serupa. Akhirnya kami berdua sama-sama kelelahan dan tergolek begitu saja di atas kasur. Tak lama kemudian, Rina bangkit. Ia mengambil es jeruk yang ada di meja di samping tempat tidurnya. Lalu ia menuangkan es jeruk itu ke kemaluanku. Aku menjerit kecil . Sementara ia juga menuangkan es jeruk yang tersisa ke dalam kemaluannya sendiri. Tubuh Rina menindihku. Kepalanya menghadap ke selangkanganku. Demikian pula kepalaku menghadap ke selangkangannya. Lidahnya mulai menjilati kemaluanku. Ia menikmati es jeruk yang sudah mulai masuk ke dalam liang vaRinaku. Lidahnya mengikuti aliran air jeruk itu sampai masuk ke dalam "gua keramat"ku itu. Dijilatinya dinding vagina Rinaku, membuatku menggerinjal-gerinjal kegelian. "Ouuhh.. Rina.. teruskan..!" desisku bernafsu. Rina melanjutkan penjelajahannya. Sementara itu di sisi lainnya, lidahku pun berbuat hal yang sama pada kemaluannya. Kami berdua dengan garang mempermainkan daging kecil yang berada di dalam liang kewanitaan lawan masing-masing. Kami berdua menggerinjal-gerinjal keras, sampai-sampai tubuh kami berdua jatuh ke lantai. Beberapa detik kemudian, tubuh kami berdua tergeletak di lantai berdampingan dalam keadaan loyo. Lelah memang, namun penuh dengan kenikmatan yang tak terhingga. Rina tersenyum. 

Tiba-tiba tangannya kembali meraih tubuhku dan mendekapku. Kembali payudara kami bersentuhan, sementara mulut kami saling melumat satu sama lain. Kami berbaring berhadap-hadapan, dengan kedua kakiku dan kakinya saling berselisipan dan kedua selangkangan kami saling menempel. Kemudian Rina menggesekkan kemaluannya pada kemaluanku berulang-ulang hingga kami berdua puas setelah kemi berdua merasa kelelahan dan merasakan kepuasan kami melanjutkan untuk mandi ager nanti sesampainya di kampus pakaian kami berdua tidak berantakan.
cerita dewasa kumpulan cerita sex blowjob handjob cerita sex dewasa cerita seks dewasa, tante girang daun muda pemerkosaan cerita seks artis cerita sex artis cerita porno artis cerita hot artis cerita sex cerita selingkuhan cerita kenikmatan cerita bokep cerita ngentot cerita hot bacaan seks cerita Kumpulan Cerita Seks onani dan Masturbasi cerita seks tante blog cerita seks seks sedarah seks cerita 17 tahun cerita bokep cerita biru

Rabu, 09 September 2015

Berita Sex:Lebian Bersama Pramugari

Cerita Sex, Cerita Dewasa, Cersex Cerita Sex, Cerita Dewasa, Cerita Ngentot, Cerita Mesum, Cerita Sex, Cerita Lesbian, Cerita Bispacx Terbaru 2015.
Awal dan mulanya aku adalah mahasiswi disebuah universitas swasta di kota Palembang Awal mula aku mengalami Making Love dengan seorang wanita yang mengubah orientasi seksualku menjadi seorang biseksual, aku mengalami percintaan sesama jenis ketika usiaku 22 tahun dengan seorang wanita berusia 40tahun, entah mengapa semuanya terjadi begitu saja terjadi mungkin ada dorongan libidoku yang ikut menunjang semua itu dan semua ini telah kuceritakan dalam “Rahasiaku.”.
Berita Sex:Lebian Bersama Pramugari
Wanita itu adalah Ibu Kos-ku, ia bernama Tante Dian, suaminya seorang pedagang yang sering keluar kota. Dan akibat dari pengalaman bercinta dengannya aku mendapat pelayanan istimewa dari Ibu Kos-ku, tetapi aku tak ingin menjadi lesbian sejati, sehingga aku sering menolak bila diajak bercinta dengannya, walaupun Tante Dian sering merayuku tetapi aku dapat menolaknya dengan cara yang halus, dengan alasan ada laporan yang harus kukumpulkan besok, atau ada test esok hari sehingga aku harus konsentrasi belajar, semula aku ada niat untuk pindah kos tetapi Tante Dian memohon agar aku tidak pindah kos dengan syarat aku tidak diganggu lagi olehnya, dan ia pun setuju.

Sehingga walaupun aku pernah bercinta dengannya seperti seorang suami istri tetapi aku tak ingin jatuh cinta kepadanya, kadang aku kasihan kepadanya bila ia sangat memerlukanku tetapi aku harus seolah tidak memperdulikannya.

Kadang aku heran juga dengan sikapnya ketika suaminya pulang kerumah mereka seakan tidak akur, sehingga mereka berada pada kamar yang terpisah. Hingga suatu hari ketika aku pulang malam hari setelah menonton bioskop dengan teman priaku, waktu itu jam sudah menunjukkan pukul setengah sebelas malam, karena aku mempunyai kunci sendiri maka aku membuka pintu depan, suasana amat sepi lampu depan sudah padam, kulihat lampu menyala dari balik pintu kamar kos pramugari itu,

“Hmm.. ia sudah datang,

” gumamku, aku langsung menuju kamarku yang letaknya bersebelahan dengan kamar pramugari itu. aku bersihkan wajahku dan berganti pakaian dengan baju piyamaku, lalu aku menuju ke pembaringan, tiba-tiba terdengar rintihan-rintihan yang aneh dari kamar sebelah.

Aku jadi penasaran karena suara itu sempat membuatku takut, kucoba memberanikan diri untuk mengintip kamar sebelah karena kebetulan ada celah udara antara kamarku dengan kamar pramugari itu, walaupun ditutup triplek aku mencoba untuk melobanginya, kuambil meja agar aku dapat menjangkau lubang udara yang tertutup triplek itu.

Lalu pelan pelan kutusukan gunting tajam agar triplek itu berlobang, betapa terkejutnya aku ketika kulihat pemandangan di kamar sebelahku. Aku melihat Tante Dian menindih seorang wanita yang kelihatan lebih tinggi, berkulit putih, dan berambut panjang, mereka berdua dalam keadaan bugil, lampu kamarnya tidak dipadamkan sehingga aku dapat melihat jelas Tante Dian sedang berciuman bibir dengan wanita itu yang mungkin pramugari itu.

Ketika Tante Dian menciumi lehernya, aku dapat melihat wajah pramugari itu, dan ia sangat cantik wajahnya bersih dan mempunyai ciri khas seorang keturunan ningrat. Ternyata pramugari itu juga terkena rayuan Tante Dian, ia memang sangat mahir membuat wanita takluk kepadanya, dengan sangat hati-hati Tante Dian menjilati leher dan turun terus ke bawah. Bibir pramugari itu menganga dan mengeluarkan desahan-desahan birahi yang khas, wajahnya memerah dan matanya tertutup sayu menikmati kebuasan Tante Dian menikmati tubuhnya itu.

Tangan Tante Dian mulai memilin puting payudara pramugari itu, sementara bibirnya menggigit kecil puting payudara sebelahnya. Jantungku berdetak sangat kencang sekali menikmati adegan itu, belum pernah aku melihat adegan lesbianisme secara langsung, walaupun aku pernah merasakannya.
Dan ini membuat libidiku naik tinggi sekali, aku tak tahan berdiri lama, kakiku gemetaran, lalu aku turun dari meja tempat aku berpijak, walau aku masih ingin menyaksikan adegan mereka berdua.

Dadaku masih bergemuru. Entah mengapa aku juga ingin mengalami seperti yang mereka lakukan. Kupegangi liang vaginaku, dan kuraba klitorisku, seiring erangan-erangan dari kamar sebelah aku bermasturbasi sendiri.
Tangan kananku menjentik-jentikan klitorisku dan tangan kiriku memilin-milin payudaraku sendiri, kubayangkan Tante Dian mencumbuiku dan aku membayangkan juga wajah cantik pramugari itu menciumiku, dan tak terasa cairan membasahi tanganku, walaupun aku belum orgasme tapi tiba-tiba semua gelap dan ketika kubuka mataku, matahari pagi sudah bersinar sangat terang.

Aku mandi membersihkan diriku, karena tadi malam aku tidak sempat membersihkan diriku. Aku keluar kamar dan kulihat mereka berdua sedang bercanda di sofa.
Ketika aku datang mereka berdua diam seolah kaget dengan kehadiranku. Tante Dian memperkenalkan pramugari itu kepadaku,

“Rus, kenalkan ini pramugari kamar sebelahmu.

” Kusorongkan tangan kepadanya untuk berjabat tangan dan ia membalasnya,

“Hai, cantik namaku Novi, namamu aku sudah tahu dari Ibu Kos, semoga kita dapat menjadi teman yang baik.

” Kulihat sinar matanya sangat agresif kepadaku, wajahnya memang sangat cantik, membuatku terpesona sekaligus iri kepadanya, ia memang sempurna. Aku menjawab dengan antusias juga,

“Hai, Kak, kamu juga cantik sekali, baru pulang tadi malam.

” Dan ia mengangguk kepala saja, aku tak tahu apa lagi yang diceritakan Tante Dian kepadanya tentang diriku, tapi aku tak peduli kami beranjak ke meja makan.

Di meja makan sudah tersedia semua masakan yang dihidangkan oleh Tante Dian, kami bertiga makan bersama.
Kurasakan ia sering melirikku walaupun aku juga sesekali meliriknya, entah mengapa dadaku bergetar ketika tatapanku beradu dengan tatapannya. Tiba-tiba Tante Dian memecahkan kesunyian,

“Hari ini Tante harus menjenguk saudara Tante yang sakit, dan bila ada telpon untuk Tante atau dari suami Tante, tolong katakan Tante ke rumah Tante Diana.

” Kami berdua mengangguk tanda mengerti, dan selang beberapa menit kemudian Tante Dian pergi menuju rumah saudaranya.

Dan tinggallah aku dan Novi sang pramugari itu, untuk memulai pembicaraan aku mengajukan pertanyaan kepadanya,

“Kak Novi, rupanya sudah kos lama disini.

” Dan Novi pun menjawab,

“Yah, belum terlalu lama, baru setahun, tapi aku sering bepergian, asalku sendiri dari kota
“Y”, aku kos disini hanya untuk beristirahat bila perusahaan mengharuskan aku untuk menunggu shift disini.” Aku mengamati gaya bicaranya yang lemah lembut menunjukan ciri khas daerahnya, tubuhnya tinggi semampai. Dari percakapan kami, kutahu ia baru berumur 26 tahun.

Tiba-tiba ia menanyakan hubunganku dengan Tante Dian. Aku sempat kaget tetapi kucoba menenangkan diriku bahwa Tante Dian sangat baik kepadaku.

Tetapi rasa kagetku tidak berhenti disitu saja, karena Novi mengakui hubungannya dengan Tante Dian sudah merupakan hubungan percintaan. Aku pura-pura kaget,

“Bagaimana mungkin kakak bercinta dengannya, apakah kakak seorang lesbian,

” kataku. Novi menjawab,

“Entahlah, aku tak pernah berhasil dengan beberapa pria, aku sering dikhianati pria, untung aku berusaha kuat, dan ketika kos disini aku dapat merasakan kenyamanan dengan Tante Dian, walaupun Tante Dian bukan yang pertama bagiku, karena aku pertama kali bercinta dengan wanita yaitu dengan seniorku.

” Kini aku baru mengerti rahasianya, tetapi mengapa ia mau membocorkan rahasianya kepadaku aku masih belum mengerti, sehingga aku mencoba bertanya kepadanya,

“Mengapa kakak membocorkan rahasia kakak kepadaku.

” Dan Novi menjawab,

“Karena aku mempercayaimu, aku ingin kau lebih dari seorang sahabat.

” Aku sedikit kaget walaupun aku tahu isyarat itu, aku tahu ia ingin tidur denganku, tetapi dengan Novi sangat berbeda karena aku juga ingin tidur dengannya. Aku tertunduk dan berpikir untuk menjawabnya, tetapi tiba-tiba tangan kanannya sudah menyentuh daguku.
Ia tersenyum sangat manis sekali, aku membalas senyumannya. Lalu bibirnya mendekat ke bibirku dan aku menunggu saat bibirnya menyentuhku, begitu bibirnya menyentuh bibirku aku rasakan hangat dan basah, aku membalasnya.

Lidahnya menyapu bibirku yang sedkit kering, sementara bibirku juga merasakan hangatnya bibirnya. Lidahnya memasuki rongga mulutku dan kami seperti saling memakan satu sama lain.

Sementara aku fokus kepada pagutan bibirku, kurasakan tangannya membuka paksa baju kaosku, bahkan ia merobek baju kaosku.

Walau terkejut tapi kubiarkan ia melakukan semuanya, dan aku membalasnya kubuka baju dasternya. Ciuman bibir kami tertahan sebentar karena dasternya yang kubuka harus dibuka melewati wajahnya.

Kulihat Bra hitamnya menopang payudaranya yang lumayan besar, hampir seukuran denganku tetapi payudaranya lebih besar. Ketika ia mendongakkan kepalanya tanpa menunggu, aku cium leher jenjangnya yang sexy, sementara tanggannya melepas bra-ku seraya meremas-remas payudaraku. Aku sangat bernafsu saat itu aku ingin juga merasakan kedua puting payudaranya.

Kulucuti Bra hitamnya dan tersembul putingnya merah muda tampak menegang, dengan cepat kukulum putingnya yang segar itu. Kudengar ia melenguh kencang seperti seekor sapi, tapi lenguhan itu sangat indah kudengar.

Kunikmati lekuk-lekuk tubuhnya, baru kurasakan saat ini seperti seorang pria, dan aku mulai tak dapat menahan diriku lalu kurebahkan Novi di sofa itu.
Kujilati semua bagian tubuhnya, kulepas celana dalamnya dan lidahku mulai memainkan perannya seperti yang diajarkan Tante Dian kepadaku. Entah karena nafsuku yang menggebu sehingga aku tidak jijik untuk menjilati semua bagian analnya.

Sementara tubuh Novi menegang dan Novi menjambak rambutku, ia seperti menahan kekuatan dasyat yang melingkupinya. Ketika sedang asyik kurasakan tubuh Novi, tiba-tiba pintu depan berderit terbuka. Spontan kami berdua mengalihkan pandangan ke kamar tamu, dan Tante Dian sudah berdiri di depan pintu. Aku agak kaget tetapi matanya terbelalak melihat kami berdua berbugil.

Dijatuhkannya barang bawaannya dan tanpa basa-basi ia membuka semua baju yang dikenakannya, lalu menghampiri Novi yang terbaring disofa. Diciuminya bibirnya, lalu dijilatinya leher Novi secara membabi buta, dan tanggannya yang satu mencoba meraihku.
Aku tahu maksud Tante Dian, kudekatkan wajahku kepadanya, tiba-tiba wajahnya beralih ke wajahku dan bibirnya menciumi bibirku. aku membalasnya, dan Novi mencoba berdiri kurasakan payudaraku dikulum oleh lidah Novi.

Aku benar-benar merasakan sensasi yang luar biasa kami bercinta bertiga. Untung waktu itu hujan mulai datang sehingga lingkungan mulai berubah menjadi dingin, dan keadaan mulai temaram.
Novi kini melampiaskan nafsunya menjarah dan menikmati tubuhku, sementara aku berciuman dengan Tante Dian. Novi menghisap klitorisku, aku tak tahu perasaan apa pada saat itu.
Setelah mulut Tante Dian meluncur ke leherku aku berteriak keras seakan tak peduli ada yang mendengar suaraku. Aku sangat tergetar secara jiwa dan raga oleh kenikmatan sensasi saat itu. Kini giliranku yang dibaringkan di sofa, dan Novi masih meng-oral klitorisku, sementara Tante Dian memutar-mutarkan lidahnya di payudaraku.

Akupun menjilati payudara Tante Dian yang sedikit kusut di makan usia, kurasakan lidah-lidah mereka mulai menuruni tubuhku. Lidah Novi menjelejah pahaku dan lidah Tante Dian mulai menjelajah bagian sensitifku. Pahaku dibuka lebar oleh Novi, sementara Tante Dian mengulangi apa yang telah dilakukan Novi tadi, dan kini Novi berdiri dan kulihat ia menikmati tubuh Tante Dian.

Dijilatinya punggung Tante Dian yang menindihku dengan posisi 69, dan Novi menelusuri tubuh Tante Dian. Tetapi kemudian ia menatapku dan dalam keadaan setengah terbuai oleh kenikmatan lidah Tante Dian. Novi menciumi bibirku dan aku membalasnya juga, hingga tak terasa kami berjatuhan dilantai yang dingin. Aku sangat lelah sekali dikeroyok oleh mereka berdua, sehingga aku mulai pasif.

Tetapi mereka masih sangat agresif sekali, seperti tidak kehabisan akal Novi mengangkatku dan mendudukan tubuhku di kedua pahanya, aku hanya pasrah. Sementara dari belakang Tante Dian menciumi leherku yang berkeringat, dan Novi dalam posisi berhadapan denganku, ia menikmatiku, menjilati leherku, dan mengulum payudaraku.

Sementara tangan mereka berdua menggerayangi seluruh tubuhku, sedangkan tanganku kulingkarkan kebelakang untuk menjangkau rambut Tante Dian yang menciumi tengkuk dan seluruh punggungku.

Entah berapa banyak rintihan dan erangan yang keluar dari mulutku, tetapi seakan mereka makin buas melahap diriku. Akhirnya aku menyerah kalah aku tak kuat lagi menahan segalanya aku jatuh tertidur, tetapi sebelum aku jatuh tertidur kudengar lirih mereka masih saling menghamburkan gairahnya.
Saat aku terbangun adalah ketika kudengar dentang bel jam berbunyi dua kali, ternyata sudah jam dua malam hari. Masih kurasakan dinginnya lantai dan hangatnya kedua tubuh wanita yang tertidur disampingku.

Aku mencoba untuk duduk, kulihat sekelilingku sangat gelap karena tidak ada yang menyalakan lampu, dan kucoba berdiri untuk menyalakan semua lampu. Kulihat baju berserakan dimana-mana, dan tubuh telanjang dua wanita masih terbuai lemas dan tak berdaya.

Kuambilkan selimut untuk mereka berdua dan aku sendiri melanjutkan tidurku di lantai bersama mereka. Kulihat wajah cantik Novi, dan wajah anggun Tante Dian, dan aku peluk mereka berdua hingga sinar matahari datang menyelinap di kamar itu.

Pagi datang dan aku harus kembali pergi kuliah, tetapi ketika mandi seseorang mengetuk pintu kamar mandi dan ketika kubuka ternyata Novi dan Tante Dian. Mereka masuk dan di dalam kamar mandi kami melakukan lagi pesta seks ala lesbi.

Kini Novi yang dijadikan pusat eksplotasi, seperti biasanya Tante Dian menggarap dari belakang dan aku menggarap Novi dari depan.

Semua dilakukan dalam posisi berdiri. Tubuh Novi yang tinggi semampai membuat aku tak lama-lama untuk berciuman dengannya aku lebih memfokuskan untuk melahap buah dadanya yang besar itu. Sementara tangan Tante Dian membelai-belai daerah sensitif Novi. Dan tanganku menikmati lekuk tubuh Novi yang memang sangat aduhai.

Percintaan kami dikamar mandi dilanjutkan di ranjang suami Tante Dian yang memang berukuran besar, sehingga kami bertiga bebas untuk berguling, dan melakukan semua kepuasan yang ingin kami rengkuh.

Hingga pada hari itu aku benar-benar membolos masuk kuliah. Hari-hari berlalu dan kami bertiga melakukan secara berganti-ganti. Ketika Novi belum bertugas aku lebih banyak bercinta dengan Novi, tetapi setelah seminggu Novi kembali bertugas ada ketakutan kehilangan akan dia. Mungkin aku sudah jatuh cinta dengan Novi, dan ia pun merasa begitu.

Malam sebelum Novi bertugas aku dan Novi menyewa kamar hotel berbintang dan kami melampiaskan perasaan kami dan benar-benar tanpa nafsu. Aku dan Novi telah menjadi kekasih sesama jenis.

Malam itu seperti malam pertama bagiku dan bagi Novi, tanpa ada gangguan dari Tante Dian. Kami bercinta seperti perkelahian macan yang lapar akan kasih sayang, dan setelah malam itu Novi bertugas di perusahaan maskapai penerbangannya ke bangkok.

Entah mengapa kepergiannya ke bandara sempat membuatku menitikan air mata, dan mungkin aku telah menjadi lesbian. Karena Novi membuat hatiku dipenuhi kerinduan akan dirinya, dan aku masih menunggu Novi di kos Tante Dian.

Walaupun aku selalu menolak untuk bercinta dengan Tante Dian, tetapi saat pembayaran kos, Tante Dian tak ingin dibayar dengan uang tetapi dengan kehangatan tubuhku di ranjang.

Sehingga setiap satu bulan sekali aku melayaninya dengan senang hati walaupun kini aku mulai melirik wanita lainnya, dan untuk pengalamanku selanjutnya kuceritakan dalam kesempatan yang lain